Mereka Duta Indonesia dari Eropa Timur
ALENA Ondejcikova yang mengenakan baju batik panjang warna biru terampil menceritakan alat musik angklung yang baru saja dimainkan Dharma Wanita dan staf Kedutaan Besar Republik Indonesia Bratislava pada Pameran Tanaman Bonsai Slovakia yang digelar di kota Nitra, 85 kilometer dari kota Bratislava, 17-20 Maret lalu.
Pameran internasional bonsai, suseiki, dan minuman teh yang diadakan untuk ke-11 kalinya itu diselenggarakan Alena Ondejcikova bersama suaminya, Vladimir Ondejcikova, dibantu putra dan putri mereka yang berangkat dewasa. Pasangan itu sejak empat tahun lalu menggandeng KBRI Bratislava untuk meramaikan acara.
Uluran tangan Alena tidak disia-siakan KBRI Bratislava yang berkolaborasi dengan KBRI Budapes dan KBRI Wina yang selama empat hari pameran menampilkan kesenian Indonesia berupa tari-tarian serta pertunjukan gamelan.
Selama pertunjukan berlangsung, Alena yang menjadi pembawa acara dengan bahasa Slowakia menjelaskan kepada yang hadir mengenai tari piring yang dibawakan anak-anak asuhan KBRI Wina, begitu juga pada penampilan musik gamelan yang dimainkan penerima dharmasiswa dari KBRI Budapes.
Alena belum pernah ke Indonesia, namun kecintaannya akan kesenian Indonesia menjadikan Alena tak ubahnya duta budaya Indonesia, tidak saja bagi masyarakat kota Nitra, tetapi juga bagi peserta pameran yang datang dari berbagai negara, seperti dari Italia, Perancis, Spanyol, Polandia, dan Hongaria."Saya sangat senang dengan kesenian Indonesia dan bangga bisa menampilkan seni budaya yang sangat indah ini," ujar Alena yang menyebutkan masyarakat Indonesia sangat ramah dan bersahabat.
Kecintaan Alena juga diperlihatkan dengan menampilkan penari Indonesia pada sampul majalah Bonsaj a Caj yang diterbitkan bagi pencinta bonsai, juga pada sampul belakang buku Bonsai Slovakia.
Kornel Magyar dan istrinya, Virag Polgar, dan Peter Szilagyi berserta rekan-rekannya penerima Dharmasiswa dari Hongaria tampil dengan permainan alat musik gamelan. Mereka juga memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Slowakia.
Penerima Dharmasiswa
Kornel (32) yang pernah belajar di STSI Bandung tahun 1999 dengan bahasa Indonesia yang fasih menceritakan pengalamannya saat belajar gamelan di Bandung. "Saya belajar gamelan Sunda," ujar ayah dua anak itu yang pada acara "Gala Evening Bonsai Slovakia 2008" bersama Virag Polgar mempertunjukkan keterampilannya dalam menari.
"Kalau di rumah istri saya selalu masak makanan Indonesia," ujar Kornel yang ikut dalam setiap pementasan gamelan yang diadakan oleh KBRI Budapes bersama penerima dharmasiswa lainnya, seperti Andras Terfy, Gabor Nemeth, Marton Szatai, Peter Szanto, gabos Gordenyi, Thomas Bernath, serta Anna Lackey yang akan mengikuti program yang diperkenalkan oleh Departemen Luar Negeri .
Kehadiran mereka dalam pameran bonsai memberikan warna tersendiri, apalagi setiap kesempatan tampil di panggung mereka juga mengenakan kemeja batik. "Musik gamelan memang berbeda dengan alat musik yang ada di Eropa," ujar Peter Szilagyi yang belajar gamelan di STSI Solo tahun 1997. Menurut dia, ada keasyikan tersendiri saat memainkan gamelan, selain membutuhkan sinkronisasi dengan pemain lain. "Hal ini menjadi tantangan tersendiri," ujar Peter yang bekerja di Pusat Informasi Perdagangan Internasional Indonesia di Budapes.
Penampilan duta-duta budaya Indonesia menjadi daya tarik tersendiri dalam pameran ini. Sosok mereka yang berkulit putih dan berambut pirang terlihat kontras saat memainkan alat musik tradisional gamelan. "Justru informasinya akan mudah diterima bila yang menyampaikan dari kalangan mereka sendiri," ujar Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Bratislava Firdauzie Dwiandika, yang mengatakan keikutsertaan Indonesia dalam ajang pameran bonsai ini merupakan peluang besar dalam mempromosikan keunikan dan keragaman budaya Indonesia.
Sarana promosi
Menurut Firdauzie Dwiandika, pameran bonsai tersebut menjadi salah satu sarana promosi pariwisata Indonesia bagi masyarakat Bratislava dengan menyediakan berbagai brosur mengenai berbagai daerah tujuan wisata di Indonesia.
Paviliun Indonesia berada di samping panggung. Patung Garuda Kencana dan gapura Bali tampak menonjol di antara pohon-pohon bonsai. Demo membatik dan berbagai jenis batik juga diadakan dalam acara ini. Setiap pengunjung dapat menjajal cara menggunakan canting dan malam pada kain putih yang bergambar bunga, dipandu oleh Hendra Koswara, perajin batik asal Yogyakarta yang khusus diundang untuk mendemonstrasikan cara membatik.
Sekretaris I Fungsi Sosial Budaya KBRI Bratislava Wanton Saragih mengatakan bahwa pergelaran seni budaya Indonesia tersebut semakin efektif mempromosikan budaya Indonesia di Slowakia, khususnya di kota Nitra, karena Indonesia diberi tempat khusus untuk mengisi acara selama pameran.
MBK
Sumber : Antara
4:43 PM | Label: Berita, Indonesia | 0 Comments
Bali Instrument

Download Here:
Gamelan Gong Sekaha Budaya
Gamelan Salunding
Gender Wayang
Sadha Budaya Gamelan Gong Suling
12:21 AM | Label: Music | 0 Comments
The String Quartet

Track List & Download
The String Quartet - Bring Me to Life
The String Quartet - Californication
The String Quartet - Dont Cry
The String Quartet - Emotionless
The String Quartet - Fortune Faded
The String Quartet - Knockin On Heavens Door
The String Quartet - November Rain
The String Quartet - Patience
The String Quartet - Perfect
The String Quartet - Sweet Child O Mine
12:12 AM | Label: Music | 0 Comments
Indonesia Raih Tiga Medali di Olimpiade Sains
Tangerang: Prestasi membanggakan kembali ditorehkan putra-putri Indonesia di tengah kondisi pendidikan di Tanah Air yang tak menentu. Tiga pelajar Indonesia meraih dua medali emas dan satu perak dalam International Environmental Project Olympiad II (INEPO II) Eurosia di Baku, Azerbaijan, 1 hingga 6 April 2008.
Medali emas disumbangkan Reyhan Pradnya Pradana dan Setyo Budi Premaji Widodo. Mereka menjadi yang terbaik berkat penelitian mengenai bahaya merkuri terhadap rambut manusia. Sementara perak diraih oleh Adrienne Sulistyo untuk kategori kimia. Gadis manis ini memperkenalkan pengolahan limbah stereofoam menjadi penjernih air atau bahan dasar semen dengan menggunakan ekstrak kulit jeruk.
INEPO Eurosia merupakan olimpiade sains tentang lingkungan hidup yang diikuti 32 negara. Ketiga peserta dari Indonesia sedikitnya membutuhkan persiapan dan penelitian antara enam bulan hingga setahun agar menjadi yang terbaik di ajang tersebut. Mereka tiba di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (12/4).
Pada ajang yang sama setahun silam, dua pelajar Indonesia juga meraih dua medali emas melalui Aulia Reza serta Choiruddin Anas. Prestasi ini menambah panjang daftar pelajar Indonesia yang merebut emas di berbagai ajang internasional ilmu pengetahuan dan teknologi.(RMA/Abdul Rosyid)
Liputan6.com,
10:04 PM | Label: Indonesia, Pendidikan | 0 Comments
Slank - Gossip Jalanan
E7 D7 A7
E7 D A7
Pernah kah lo denger mafia judi
E7 D A7
Katanya banyak uang suap polisi
B7 A7
tentara jadi pengawal pribadi
E7 D A7
E7 D A7
Apa lo tau mafia narkoba
E7 D A7
keluar masuk jadi bandar di penjara
B7 A7
terhukum mati tapi bisa ditunda
E7 D A7
E7 D A7
Siapa yang tau mafia selangkangan
E7 D A7
Tempatnya lendir2 berceceran
B7 A7
Uang jutaan bisa dapat perawan
A7 E7 A7
Kacau balau ... 2x negaraku ini ...
B7 A7 B7 E7
E7 D A7
Ada yang tau mafia peradilan
E7 D A7
tangan kanan hukum di kiri pidana
B7 A7
dikasih uang habis perkara
E7 D A7
Apa bener ada mafia pemilu
E7 D A7
entah gaptek apa manipulasi data
B7 A7
ujungnya beli suara rakyat
E7 D A7
Mau tau gak mafia di senayan
E7 D A7
kerjaanya tukang buat peraturan
bikin UUD ujung2nya duit
E7 D A7
Pernahkah gak denger triakan Allahu Akbar
E7 D A7
pake peci tapi kelakuan bar bar
B7 A7
ngerusakin bar orang ditampar tampar
DOWNLOAD MP3
http://rapidshare.com/files/110038428/Slank-GosipJalanan.mp3
7:33 PM | Label: Mp3, Music | 0 Comments
UU ITE. Wajib Ada, Kok Malah Dicerca
UU ITE
Wajib Ada, Kok Malah Dicerca
Puluhan tamu memenuhi ruang pertemuan di lantai VII Gedung Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), Senin malam pekan lalu. Kursi-kursi tambahan tampak berjejal demi menampung peserta yang melebihi kapasitas ruang pertemuan itu. Para tamu yang tampak antusias itu adalah anggota komunitas blogger (penulis blog di internet). Mereka bertandang ke Depkominfo karena secara khusus diundang bersilaturahmi dengan Menteri Kominfo, Mohammad Nuh, yang duduk di deretan meja paling depan.
Meski pertemuan itu dirancang informal, agenda pembicaraan berjalan serius. Yakni masalah terkini di dunia internet. Persisnya soal pengesahan Undang-Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) per 25 Maret lalu.
Untuk mengimbangi tamu yang membludak, Nuh pun membawa pasukan cukup lengkap. Ada Direktur Jenderal Aplikasi Telematika Cahyana Ahmadjayadi, staf ahli hukum Menkominfo Edmon Makarim, serta Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi Basuki Yusuf Iskandar.
Dalam pertemuan selama tiga jam itu, Nuh dan ketiga pejabatnya terlihat sabar menerima "serbuan" pertanyaan, kritik, hingga "curhat" para blogger. Lantaran pengesahan UU ITE itu seiring dengan beredarnya film Fitna buatan politikus Belanda, tak urung masalah tersebut kian mengemuka. Apalagi, pada saat itu, Depkominfo tengah memblokir beberapa situs seperti Youtube dan Multiply yang memuat film Fitna. Para tamu itu menilai cara pemblokiran seperti ini seperti menembak nyamuk dengan meriam, alias berlebihan dan malah merugikan.
Makanya, sebagian blogger seperti Boy Avianto mengusulkan, daripada memblokir situs-situs yang memiliki content film Fitna, lebih baik Depkominfo mendorong pembuatan film yang bisa mengangkat citra Islam. "Saya yakin, film ini akan lebih bagus dan membantu meng-counter film Fitna," ujar Boy Avianto.
Pertanyaan dan curhat lain yang mendominasi pertemuan adalah penilaian sensor internet terkait pornografi yang tak efektif. Malah ada seorang blogger yang menyebut Pasal 27 UU ITE memasung kebebasan publik berpendapat. Pasal yang terdiri dari empat ayat ini mengatur soal pelarangan content asusila (porno), perjudian, pencemaran nama baik, dan pemerasan/pengancaman dalam dokumen elektronik.
Di komunitas blogger, memang Pasal 27 dan Pasal 28 paling banyak menuai kritik dan kecaman. Pasal 28 mengatur tentang larangan menyebarkan berita bohong dan informasi yang menimbulkan kebencian bernuansa SARA (suku, agama, ras, dan antar-golongan). Tak hanya kecaman dan keluhan, caci maki pada pemerintah pun banyak muncul di laman-laman blog mereka.
Tak hanya blogger, pada Senin pagi Dewan Pers juga menilai dua pasal itu berpotensi mengancam kemerdekaan pers dan berekspresi masyarakat. Mereka menilai, pasal-pasal yang mengatur soal penyebaran kebencian dan penghinaan itu mengingatkan pada haatzai artikelen (pasal karet) di KUHP. Padahal, pasal produk kolonial itu sudah tidak boleh diberlakukan berdasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Karena itu, Dewan Pers menilai UU ITE harus direvisi. Malah mereka berniat mengajukan uji materiil ke MK.
Hal ini tak luput dari pantauan Nuh. Ia tampak heran atas segala ungkapan para blogger itu. "Saya heran, mengapa masalah sensor porno yang paling banyak di-blow-up. Padahal, esensi UU ITE melingkupi seluruh transaksi berbasis elektronik seperti komputer serta jaringan dan memiliki kekuatan hukum," kata Nuh.
Sedangkan terhadap penilaian Dewan Pers, Nuh menyebutkan, tak sepatutnya insan pers khawatir. Sebab dunia pers sudah memiliki peraturan hukum tersendiri, yaitu UU Pers.
Ia menuturkan, UU ITE yang disahkan DPR pada 25 Maret lalu menjadi bukti bahwa Indonesia tak lagi ketinggalan dari negara lain dalam membuat peranti hukum di bidang cyberspace law. Menurut data Inspektorat Jenderal Depkominfo, sebelum pengesahan UU ITE, Indonesia ada di jajaran terbawah negara yang tak punya aturan soal cyberspace law. Posisi negeri ini sama dengan Thailand, Kuwait, Uganda, dan Afrika Selatan.
Tentu saja posisi itu jauh berada di belakang negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Bahkan beberapa negara berkembang lainnya, seperti India, Sri Lanka, Bangladesh, dan Singapura, mendahului Indonesia membuat cyberspace law. Tak mengherankan jika Indonesia sempat menjadi surga bagi kejahatan pembobolan kartu kredit (carding).
Sesuai dengan catatan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, kejahatan dunia cyber hingga pertengahan 2006 mencapai 27.804 kasus. Itu meliputi spam, penyalahgunaan jaringan teknologi informasi, open proxy (memanfaatkan kelemahan jaringan), dan carding. Data dari Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) menunjukkan, sejak tahun 2003 hingga kini, angka kerugian akibat kejahatan kartu kredit mencapai Rp 30 milyar per tahun.
Menurut Cahyana Ahmadjayadi, selain carding, aneka kejahatan internet lain yang juga merugikan banyak pihak makin meningkat. Mulai hacking (pembobolan jaringan internet tanpa tujuan merusak, biasanya sekadar "adu ilmu"), cracking (pembobolan jaringan internet dengan tujuan merusak seperti menyebar virus hingga mengambil data rahasia), phising (pencurian informasi personal seperti e-mail dan nomor rekening dengan pengiriman e-mail palsu seolah-olah dari bank), penyebar virus, pornografi, hingga perjudian.
Semua itu terjadi bersamaan dengan makin meluasnya penggunaan teknologi informasi di Indonesia. Misalnya, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 20 juta pada tahun lalu. "Karena itu, UU ITE ini mutlak diperlukan bagi negara kita," Cahyana menegaskan.
Apalagi, ia melanjutkan, kegiatan transaksi elektronik di Indonesia makin meningkat tiap tahun. Mengutip data dari AKKI, nilai transaksi kartu kredit di Indonesia pada 2001 baru Rp 19,3 trilyun. Lalu naik pesat pada 2007 hingga mencapai Rp 72,6 trilyun. Dengan kondisi ini, payung hukum jelas harus ada demi keamanan semua komponen dalam transaksi elektronik.
Antara lain melindungi issuer (institusi keuangan yang menerbitkan kartu bank), pemegang kartu (konsumen sebagai anggota penerbit kartu), pedagang (penjual jasa dan informasi jasa), institusi keuangan yang menyediakan jasa transaksi dan proses kartu bank), serta certification authority (pihak ketiga terpercaya yang menerbitkan sertifikat digital).
Selain memberi perlindungan hukum, undang-undang yang terdiri dari 13 bab dan 54 pasal itu mengatur banyak hal penting lainnya. Pertama, tanda tangan elektronik diakui memiliki kekuatan hukum yang sama dengan tanda tangan konvensional (tinta basah dan bermeterai). Pengakuan ini juga sejalan dengan panduan kerja e-ASEAN (e-ASEAN Framework Guidelines) tentang pengakuan tanda tangan digital lintas batas dalam ASEAN. Sehingga sangat mendukung pelaksanaan perdagangan elektronik (e-commerce) yang makin tinggi trafiknya.
Kedua, alat bukti elektronik diakui seperti alat bukti lainnya yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHAP). Ketiga, UU ITE berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan hukum, baik yang berada di wilayah Indonesia maupun di luar Indonesia yang memiliki akibat hukum di Indonesia. Keempat, penyelesaian sengketa juga dapat diselesaikan dengan metode penyelesaian sengketa alternatif atau arbitrase.
Dengan aturan-aturan seperti itu, UU ITE mendapat dukungan penuh dari Kepolisian RI. Mereka selama ini sering menemui kendala karena tak bisa menjadikan dokumen elektronik sebagai barang bukti. Kepala Unit IT dan Cyber Crime Direktorat II Ekonomi Khusus Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri, Kombes Petrus R. Golose, menyebutkan bahwa UU ITE menjadi payung hukum pertama bagi aparat hukum untuk menindak kejahatan transaksi elektronik di dunia cyber. "UU ITE ini prestasi luar biasa. Kami pun tidak lagi merasa malu bila bertemu dengan organisasi kepolisian internasional seperti Interpol," kata Petrus.
Meski begitu, Kepolisian RI bersama tim dari Depkominfo dan seluruh pihak terkait tak akan langsung menerapkan segala sanksi yang ada dalam UU ITE. Sanksi pada pelanggaran pasal-pasal UU ITE meliputi denda Rp 600 juta hingga Rp 12 milyar. Ada pula ancaman pidana hingga maksimal 12 tahun penjara. ."Kami tidak akan gegabah. Karena itu, kami mengutamakan langkah-langkah yang arif, seperti sosialisasi," kata penyidik Unit Cyber Crime Bareskrim Mabes Polri, AKBP Eddy Hartono.
Eddy menyatakan, pihaknya juga tak akan mencari-cari kesalahan. Sebaliknya, mereka mengajak pihak-pihak seperti pengelola warung internet (warnet) membantu polisi. Misalnya dengan melaporkan pelanggaran UU ITE. "Nanti akan kami copy, karena UU ITE memperbolehkan flash disk, hard disk, handphone, dan sejenisnya sebagai alat bukti," ujarnya.
Ternyata gayung bersambut. Sebab Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Silvia W. Sumarlin, termasuk barisan yang mendukung UU ITE. Ia menilai, dengan adanya UU ITE, para penjahat internet tak akan bisa sebebas dulu. Malah ia tak keberatan dengan denda yang mencapai belasan milyar pagi para pelanggar UU ITE, termasuk untuk pembuat situs porno. "Saya sejak dulu tidak setuju situs porno. Jadi, diganjar berapa pun, saya setuju saja," kata Sylvia, yang juga memiliki internet service provider bernama Dyviacom Intrabumi (D-Net).
APJII pun akan membantu pemerintah menjalankan UU ITE sebaik mungkin. Masalahnya, kata Wakil Ketua Umum APJII, Isnawan, secara teknis pihaknya tidak mungkin menghilangkan semua situs yang berbau pornografi, kekerasan, dan menyebarkan kebencian. "Itu ada jutaan situs. Pemerintah juga tidak bisa bekerja sendirian. Karena itu, kita harus bersama-sama terus," ujar Isnawan.
Menurut Isnawan, pemerintah perlu memperluas penyebaran peranti lunak penyaring content terlarang, seperti pornografi dan kekerasan. Sebab, pada saat ini, selain jumlahnya terbatas, kemampuan saringannya juga masih terbatas. Rata-rata hanya mampu mendeteksi tulisan berbau porno atau kekerasan, tapi belum bisa mendeteksi gambar-gambar atau grafis asusila.
Berdasarkan pantauan Gatra, kini di situs Depkominfo terpasang peranti lunak filter situs antisusila. Pengunjung situs ini bisa mengunduh gratis content yang terletak di laman muka sisi kanan atas situs www.depkominfo.go.id.
Peranti lunak itu memang bukan hasil pengembangan Depkominfo. Mereka hanya mengambil dari peranti lunak gratis yang tersedia di internet, seperti K9 Web Protection dari Blue Coat dan Naomi Family Safe Internet dari Radiant.
Karena itulah, Depkominfo menepis tudingan bahwa mereka menghabiskan dana sampai Rp 1 trilyun hanya untuk memblokir situs porno plus situs penayang film Fitna. "Tidak, tidak betul itu ada biaya sampai Rp 1 trilyun. Sistem anggaran kami kan sangat ketat. Disahkan saja belum APBN-P 2008. Kalau kami mengeluarkan, jelas kami melanggar, tidak mungkin. Lalu tidak ada di rencana anggaran. Urusan ini tidak kami anggarkan," papar Nuh.
Selain menyediakan peranti lunak berukuran berukuran 5 MB itu, Depkominfo juga membuka kesempatan pada setiap masyarakat untuk ikut memberantas situs-situs asusila dengan melaporkannya melalu e-mail adminfilterasusila@depkominfo.go.id.
Astari Yanuarti
[Ekonomi, Gatra Nomor 23 Beredar Kamis, 17 April 2008]
3:14 PM | Label: Berita, Indonesia | 0 Comments
Mengajar Dengan Hati
Di Kalimantan guru umumnya pendatang dari luar pulau. Karena itu, guru dituntut untuk memahami budaya lokal dan mengajar dengan hati sehingga bisa meraih hati murid-muridnya.
ALAM adalah laboratorium! Kesadaran itu yang digenggam kuat Wiwiek Budiarti, guru biologi di SMP Muhammadiyah I, Bukit Raya Sepaku I, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, usai mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Tanoto Foundation pertengahan tahun lalu di Balikpapan.
Saat kembali ke sekolahnya di daerah transmigran di pedalaman Kalimantan itu, Wiwiek yang masih berstatus guru tidak tetap memanfaatkan apa saja yang ada di lingkungan sekitar ruang kelasnya guna mendukung proses pengajaran. Ketika bicara soal ekosistem misalnya, ia mengajak muridnya ke sawah dan menunjukkan kepada mereka komunitas organik yang ada di situ.
Saat bahas taksonomi dalam biologi seperti aneka spesies tanaman atau hewan, ia menyuruh murid-muridnya menanam tanaman di kebun sekolah dalam koloni berdasarkan spesies. Ia juga meminta murid-muridnya berdiskusi dan membuat alat peraga sesuai dengan topik pelajaran yang sedang diajarkan.
"Saya rasa, tugas saya sebagai guru jadi lebih ringan. Saya tidak lagi bicara sendiri selama pelajaran berlangsung tetapi saya memang dituntut harus kreatif," kata Wiwiek pekan lalu saat bertemu tim pemantau dari Tanoto Foundation.
Ia abaikan protes rekan-rekan gurunya yang mengeluh terganggu oleh suara berisik dari kelas Wiwik. "Anak-anak kan berdiskusi, jadi kedengarannya berisik," katanya.
Murid-muridnya mengaku lebih mudah memahami pelajaran ketika menggunakan alat peraga atau langsung diterjunkan ke alam. Vivit Kurniawan misalnya, mengaku jadi paham soal kandungan gula dalam makanan dan gula yang berubah warna kalau kena panas berkat metode pengajaran yang menggunakan alat peraga.
Masih di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Desmiasih, guru SDN 15, Desa Maridan, Sepaku sangat bersemangat ketika memperlihatkan alat peraga sistem tata surya hasil karya murid-muridnya. Desmiasih juga peserta pelatihan Tanoto Foundation.
Dengan menggunakan sebuah bola kecil, plastisin, kerangka payung yang sudah rusak, murid-murid Desmiasih merancang sebuah alat peraga yang memperlihatkan letak planet-planet dalam sistem tata surya. Semua 'planet' bisa berputar pada tempatnya maupun mengelilingi 'matahari' namun perputaran itu harus dilakukan secara manual.
"Saya lagi mikir bagaimana caranya agar mereka bisa putar otomatis, sampai sekarang belum tahu caranya,"kata Desmisih yang berasal dari Lampung. Bagi dia, itu merupakan pencapaian yang membanggakan.
Libatkan Hati
DI PPU, sebagaimana Kalimantan pada umumnya, kebanyakan guru adalah pendatang. Dalam pelatihan yang diselenggarakan Tanoto Foundation tahun lalu misalnya, dari 50 peserta yang berasal dari 25 sekolah di sekitar daerah konsesi PT ITCI Hutani Manunggal di PPU hanya satu orang guru asli Kalimantan.
Keberadaan guru-guru pendatang yang dominan itu, menurut DR Anita Lee, pakar pendidikan yang menjadi salah satu fasilitator pelatihan, menyebabkan kondisi pendidikan di Kalimantan berbeda dengan kebanyakan wilayah lain di Indonesia. Idealnya, kata Anita, guru terutama guru SD sesuku atau paling tidak satu bahasa ibu dengan anak-anak yang hendak dididik. Kondisi itu akan memudahkan proses pengajaran, terutama pada tahap-tahap awal.
"Sebetulnya tidak jadi masalah kalau guru-guru pendatang itu paham budaya lokal," kata Anita.
Namun yang sering terjadi, pendatang punya stereotype yang cenderung negatif tentang penduduk asli. Jika stereotype negatif itu terbawa ke dalam kelas, hal itu akan menghambat proses pengajaran.
Pelatihan yang diberikan Anita dan teman-teman memperhitungkan kondisi unik Kalimantan tersebut. Pelatihan yang diberikan mencakup hal-hal teknis dan non-teknis. Hal-hal teknis mencakup tindakan kelas dan metode cooperatif learning, sementara hal non-teknis berkaitan dengan pengajaran dengan hati yang menanggalkan berbagai prasangka negatif kesukuan sehingga guru bisa meraih hati anak-anak didik.
Dalam pelatihan, para guru misalnya diajak untuk membuat kesepakatan dengan murid-murid tentang alternatif jenis hukuman atau sanksi yang diberikan jika murid melakukan kesalahan atau melanggar anturan yang telah ditetapkan. Sasarannya antara lain agar kegiatan belajar-mengajar tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan dan menjadi beban tetapi sesuatu yang disukai dan menyenangkan.
EGP
sumber : Kompas.com
6:27 PM | Label: Berita | 0 Comments
MALU AKU MENATAP WAJAH SAUDARAKU PARA PETANI
Taufik Ismail
Ketika menatap Indonesia di abad 21 ini
Tampaklah olehku ratusan ribu desa,
Jutaan hektar sawah, ladang, perkebunan,
Peternakan, perikanan,
Di pedalaman, di pantai dan lautan,
Terasa olehku denyut irigasi, pergantian cuaca,
Kemarau dan banjir datang dan pergi
Dan tanah airku yang
Digebrak krisis demi krisis, seperti tak habis habis,
Terpincang-pincang dan sempoyongan.
Berjuta wajahmu tampak olehku
Wahai saudaraku petani, dengan istri dan anakmu,
Garis-garis wajahmu di abad 21 ini
Masih serupa dengan garis-garis wajahmu abad yang lalu,
Garis-garis penderitaan berkepanjangan,
Dan aku malu,
Aku malu kepadamu.
Aku malu kepadamu, wahai saudaraku petani di pedesaan.
Hidup kami di kota disubsidi oleh kalian petani.
Beras yang masuk ke perut kami
Harganya kalian subsidi
Sedangkan pakaian, rumah, dan pendidikan anak kalian
Tak pernah kami orang kota
Kepada kalian petani, ganti memberikan subsidi
Petani saudaraku
Aku terpaksa mengaku
Kalian selama ini kami jadikan objek
Belum lagi jadi subjek
Berpulih-puluh tahun lamanya.
Aku malu.
Hasil cucuran keringat kalian berbulan-bulan
Bulir-bulir indah, kuning keemasan
Dipanen dengan hati-hati penuh kesayangan
Dikumpulkan dan ke dalam karung dimasukkan
Tetapi ketika sampai pada masalah penjualan
Kami orang kota
Yang menentapkan harga
Aku malu mengatakan
Ini adalah suatu bentuk penindasan
Dan aku tertegun menyaksikan
Gabah yang kalian bakar itu
Bau asapnya
Merebak ke seantero bangsa
Demikian siklus pengulangan dan pengulangan
Hidup kami di kota disubsidi oleh kalian petani
Karbohidrat yang setia kalian sediakan
Harganya tak dapat kalian sendiri menentukan
Sedangkan kami orang perkotaan
Bila kami memproduksi sesuatu
Dan bila tentang harga, ada yang mencoba campur tangan
Kami orang kota akan berteriak habis-habisan
Dan mengacungkan tinju, setinggi awan
Kalian seperti bandul yang diayun-ayunkan
Antara swasembada dan tidak swasembada
Antara menghentikan impor beras dengan mengimpor beras
Swasembada tidak swasembada
Menghentikan impor beras mengimpor beras
Bandul yang bingung berayun-ayun
Bandul yang bingung diayun-ayunkan
Petani saudaraku
Aku terpaksa mengaku
Kalian selama ini kami jadikan objek
Belum jadi subjek
Berpuluh-puluh tahun lamanya
Aku malu
Didalam setiap pemilihan umum dilangsungkan
Kepada kalian janji-janji diumpankan
Tapi sekaligus ke arah kepala kalian
Diacungkan pula tinju ancaman
Dulu oleh pemerintah, kini oleh partai politik
Dan kalian hadapi ini
Antara kesabaran dan kemuakan
Menonton dari kejauhan
DPR yang turun, DPR yang naik
Presiden yang turun dan presiden yang naik
Nasib yang beringsut sangat lamban
Dan tak kudengar dari mulut kalian
Sepatah katapun diucapkan
Saudaraku,
Ditengah krisis ini yang seperti tak habis-habis
Di tengah azab demi azab menimpa bangsa
Kami berdoa semoga yang selama ini jadi objek
Dapatlah kiranya berubah menjadi subjek
Jangka waktunya pastilah lama
Tapi semuanya kita pulangkan
Kepada Tuhan
Ya Tuhan
Tolonglah petani kami
Tolonglah bangsa kami
Amin.
Juli 2003
2:24 PM | Label: Budaya dan Sastra | 0 Comments
Latihan Terbesar TNI, Telan Biaya Rp 50 Miliar
JAKARTA - Militer Indonesia menggelar latihan tempur besar-besaran. Seluruh matra -TNI-AD, TNI-AL, dan TNI-AU- dilibatkan dalam latgab (latihan gabungan) dengan sandi "Yudha Siaga" itu.
Ini termasuk latihan terbesar yang pernah digelar TNI. Personel yang dilibatkan 30.571 tentara. Rinciannya 2.418 prajurit dari lingkungan Mabes TNI, 10.388 prajurit Angkatan Darat, 13.150 prajurit TNI Angkatan Laut, 4.615 prajurit TNI Angkatan Udara.
Semua alat tempur terbaik milik TNI dites dalam latihan dengan biaya Rp 50 miliar itu. TNI-AD mengerahkan 38 tank, 19 panser, sembilan helikopter, dan satu pesawat Cassa 212. TNI-AL melibatkan 61 KRI, 30 tank amfibi PT-76, 55 panser amfibi/RRF, 12 unit Kapa K-61, tiga unit Tatra, empat peluncur roket M-70, enam Howitzer, dua Hovercraft, satu combat boat, tiga Serider, 78 perahu karet, tiga helikopter NBO-105, dan dua helikopter Bell 412.
Sementara TNI Angkatan Udara mengerahkan 24 pesawat tempur, 31 pesawat angkut, dan 13 helikopter dari berbagai jenis. "Skenario yang digunakan dalam latgab adalah merebut dan menguasai kembali beberapa bagian wilayah kedaulatan RI yang diasumsikan telah diduduki musuh," ujar Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso dalam acara pembukaan latihan di Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah kemarin.
Terlihat hadir Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Sumardjono, dan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Subandrio.
Latgab "Yudha Siaga" berlangsung dua tahap, pertama berupa Geladi Posko I pada 21-28 April di Markas Divisi Infanteri 1/Kostrad Cilodong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tahap II berupa Geladi Lapang yang berlangsung 1-20 Juni 2008. Tahap ini melibatkan seluruh personel dan alat utama sistem senjata (alutsista) dari tiga matra TNI di empat lokasi, yakni Natuna dan Batam (Kepri), Singkawang (Kalbar), dan Sangatta (Kaltim).
Latihan itu, kata Panglima, bertujuan melatih kemampuan unsur pimpinan dan pembantu pimpinan dalam proses pengambilan keputusan, melatih kesiapsiagaan seluruh unsur TNI dalam melaksanakan kampanye militer menghadapi segala kemungkinan (contingency) terjadi di wilayah Indonesia.
Djoko Santoso memastikan bahwa alutsista yang akan digunakan dalam Latgab TNI 2008 telah melalui uji kelayakan oleh masing-masing angkatan. Dengan demikian, diharapkan alutsista tersebut memberi keselamatan bagi prajurit penggunanya.
"Tiap angkatan sudah mengantisipasi dengan menginventarisasi sesuai usia dan klafikasinya, apakah alutsista layak digunakan atau tidak," katanya.(rdl/tof)
JAWAPOS.com
1:57 PM | Label: Berita | 0 Comments
Maret 2008, Suhu Daratan Terpanas dalam Sejarah
WASHINGTON, KAMIS - Fakta terjadinya pemanasan global makin jelas di depan mata. Maret 2008 tercatat sebagai bulan terpanas dalam sejarah dunia. Suhu rata-rata di daratan mencapai titik tertinggi, sedangkan suhu rata-rata keseluruhan, darat dan laut, menduduki peringkat kedua dalam catatan sejarah.
Laporan Pusat Data Iklim Nasional NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) menyatakan rata-rata suhu daratan di dunia sepanjang Maret 2008 4,9 derajat Celcius atau 1,8 derajat lebih tinggi dari suhu rata-rata sepanjang abad ke-20. Kenaikan ini dipicu kenaikan suhu yang tinggi di daratan Asia.
Kondisi tersebut sangat ekstrim dengan bulan Januari 2008 yang juga tercatat sebagai bulan Januari paling bersalju di Asia. Namun, suhu yang tinggi di bulan Maret segera mengikis salju sangat cepat sampai luas cakupannya sangat sempit.
Sementara itu rata-rata suhu di laut sepanjang Maret 2008 tercatat sebagai suhu terhangat ke-13 sepanjang sejarah. Hal tersebut karena gangguna kondisi La Nina yang berperan mendinginkan Samudera Pasifik.
Kombinasi suhu rata-rata di darat dan laut menepatkan bulan Maret 2008 sebagai bulan terpanas kedua. Sejak dinamika suhu Bumi dipantau selama 129 tahun terakhir, suhu tertinggi tercatat terjadi tahun 2002.
Suhu global mengalami tren kenaikan dalam beberapa dekade terakhir. Para pakar cuaca dan iklim yakin hal tersebut erat kaitannya dengan emisi gas buang dari pabrik dan kendaraan bermotor ke atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca.
Pemanasan global sudah menjadi keniscayaan sehingga yang perlu dilakukan adalah upaya menekan seminimal mungkin. Tindakan sekecil apapun dari setiap orang yang tinggal di Bumi akan menyumbang peran besar dalam menghadapi pemanasan global. Hal-hal kecil dapat dilakukan di rumah, kantor, bahkan di jalanan. Seperti apa tindakan-tindakan kecil yang dapat kita lakukan? Dapatkan informasinya dalam Green Festival yang digelar di Parkir Timur Senayan Jakarta, antara 18-20 April 2008.(AP/WAH)
Kompas. Jumat, 18 April 2008 | 16:32 WIB
5:56 PM | Label: Berita, Sains | 0 Comments
Temukan Sejumlah Kekeliruan
Terjemahan Alquran Berbahasa Madura Dilokaryakan
PAMEKASAN-Terjemahan Alquran berbahasa Madura yang dilakukan Jemaah Pengajian Surabaya (JPS) pada 2006 lalu, dinilai perlu kajian dan telaah lebih mendalam. Terjemahan itu perlu ada revisi agar tidak melenceng dari makna sebenarnya.
Untuk itu, hari ini STAIN Pamekasan akan menggelar pralokakarya untuk menelaah sekaligus mentashih terjemahan Alquran berbahasa madura tersebut.
Ketua panitia, Moh. Sahid MAg, mengatakan, upaya JPS menyusun terjemahan Alquran berbahasa Madura merupakan karya monumental yang bernilai sangat tinggi. Namun, terjemahan tersebut belum ditashih oleh tim Departemen Agama (depag) RI. Sehingga, terjemahan tersebut sampai sekarang belum diedarkan secara luas.
Menurut Sahid, setelah ditelaah lebih dalam dan berdasarkan hasil konsultasi STAIN dengan sejumlah kiai Madura, terjemahan tersebut diduga memiliki sejumlah kesalahan yang sangat mengganggu. "Ada sejumlah kosa kata yang jika tidak direvisi akan membuat maknanya jauh melenceng dari aslinya. Lokakarya ini ditujukan sebagai ikhtiar bersama untuk meluruskan sekaligus bentuk kepedulian kita atas karya monumental itu," katanya.
Sahid mengaku, sementara ini pihaknya telah berkonsultasi dengan Forum Musyawarah Ulama (FMU) Madura. Hasilnya, FMU melalui Tim 30 menemukan sejumlah kekurangan dan kesalahan dalam terjemahan Alquran berbahasa Madura itu.
"Kekurangan dan kesalahan ini tentunya tidak bisa dibiarkan. Tapi, sekali lagi, terjemahan Alquran yang disusun JPS belum diedarkan secara luas pada pada publik. Sebab, belum ada tim dari Depag yang men-tashih-nya," terangnya.
Lokakarya nanti STAIN menghadirkan para ulama Madura, ahli Bahasa Arab, dan ahli Bahasa Madura. "Sebelumnya, kita juga telah koordinasi dengan JPS. Insya Allah JPS akan hadir. Kita tetap akan libatkan JPS sebagai bagian dari apresiasi kita atas upayanya membuat karya monumental itu. Lokakarya ini kan untuk memperbaiki secara bersama-sama," katanya.
Sahid mengungkapkan, Depag ternyata belum memiliki tim ahli yang punya kemampuan men-tashih terjemahan Alquran berbahasa Madura. Sehingga, lokakarya yang dikemas STAIN juga diarahkan revisi demi kebenaran, ketepatan, kecermatan, dan kesesuaian penulisan yang digunakan dalam terjemahan.
"Upaya penyempurnaan tentunya tidak bisa hanya satu kali. Ini sebuah pekerjaan rumah bersama," tandasnya. (yat/mat)
Sumber: JAWAPOS, Radar Madura.
1:46 PM | Label: Berita, Madura | 0 Comments
Gong Perdamaian Indonesia Dipajang di Hongaria
BOGOR, SENIN - Sebuah gong berdiameter dua meter terbuat dari logam kuningan akan dipasang di Kota Gondollo di Negara Hongaria, Uni Eropa. Seremonial pelepasan Gong Perdamaian Dunia asal Indonesia berlangsung di halaman Balai Kota di Jalan Juanda, Kota Bogor, Senin (14/4) pukul 10.00 WIB.
Penyerahan gong tersebut dilakukan oleh Presiden The World Peace Committee, Djuyoto Suntani, kepada pemerintah Hongaria yang diwakili oleh Duta Besar Honggaria Mihaly Illes. Penyerahannya ditandai dengan memukul gong tersebut secara bergiliran, setelah serangkaian sambutan yang disampaikan Walikota Bogor Diani Budiarto, Djuyoto Suntani, Mihaly Illes, dan Dirjen Informasi & Diplomasi Publik Deplu Rachmat Budiman.
Sebelum pemukulan itu, ditampilkan pertunjukan seni tari Sunda bertajuk Tari Payung Pajajaran produksi Sangar Seni Getar Pakuan Kota Bogor. Setelah itu, selubung Gong Perdamaian Dunia yang disanggahkan pada penyaga besi dicat hitam, dibuka oleh Deputi Internasional Komite Perdamaian Dunia Sugiharso RGM.
Yang pertama memukul gong adalah Djuyoto, selanjutnya berturut-turut Mihaly Illes, Rachmat Budiman, Diani, Duta Besar Kuba George Leon, Dubes Bosnia Dinko Tomac, wakil dari Kedutan Afsel James Theboaso, para pejabat muspida Kota Bogor, para tokoh agama dan masyarakat Kota Bogor.
Gong Perdamaian Dunia adalah simbol perdamaian yang diciptakan Komite Perdamaian Dunia, sebuah lembaga kemasyarakatan internasional yang berbasis di Indonesia. Gong ini menjadi sarana persaudaraan dan pemersatuan umat manusia di muka bumi ini.
Gong pertama kali ditabuh oleh Presiden RI ke-5 Megawati Soekarno Putri di Bali pada 31 Desember 2002 pukul 00.00. Acara itu juga sebagai pencanagan tahun 2003 sebagai Tahun Perdamaian Indonesia. Gong tersebut juga ditabuh oleh Sekretaris Jenderal PPB Kofi Annan di Jenewa, Swis pada 5 Februari 2003 untuk membuka Second Global on Summit World Peace, yang dihadiri tokoh dunia dari 179 negara.
Gong itu dibuat oleh para perajin logm dari Gunung Muria, Jawa Tengah. Di Hongaria, gong akan dipasang di Kota Godollo pada 2 Mei mendatang. Pemasangan gong ini juga diikuti dengan peresmian "kota kembar" antara Godollo - Bogor.
Ratih P Sudarsono
KOMPAS.COM
1:26 PM | Label: Berita, Indonesia | 0 Comments
Sekali Lagi soal Grand Desain Madura Pasca-Suramadu
Bisa Belajar dari India untuk Menarik Investasi
Pembangunan fisik jembatan Suramadu sudah mencapai 89 persen. Jembatan yang menghubungkan Pulau Madura-Jawa ditarget selesai tahun ini. Empat kabupaten di Madura, terutama Bangkalan, sudah harus bersiap-siap menyongsong dampak langsung pasca-pembangunan megaproyek tersebut.
NUR RAHMAD AKHIRULLAH, Bangkalan
---
PERTANYAAN yang selalu muncul di setiap diskusi dan seminar; sudah siapkah masyarakat Madura menyongsong Suramadu? Pertanyaan ini juga muncul kemarin saat Open Talk Grand Desain Madura Pasca-Suramadu di Kampus Unijoyo kemarin.
Meski sebenarnya sudah banyak rekomendasi konsep terkait pembangunan Madura ke depan dibuat. Begitu juga konsep pembangunan Madura yang integral telah disampaikan ke semua pihak, termasuk ke Pemprov Jatim. Tapi tak ada respons. Sementara pembangunan fisik Suramadu terus berjalan, ironisnya, konsep tata ruang, ekonomi, dan sosial-budaya belum pasti bentuknya.
Di diskusi kemarin, Akbar Tandjung yang menjadi pembicara menjabarkan pandangan dan strateginya untuk memanfaatkan jembatan Suramadu. Terutama kemajuan ekonomi Madura. "Pembangunan ekonomi tidak bisa terlepas dengan pembangunan politik," kata mantan ketua DPR RI ini. Sebab, jembatan Suramadu merupakan hasil dari aspirasi politik sejak 1990, yang baru terealisasi di era reformasi oleh di kepemimpinan Presiden Megawati Sukarnoputri.
Menurut Akbar, kebebasan politik yang lahir sejak era reformasi merupakan instrumen yang paling menentukan keberhasilan ekonomi. Khususnya pelibatan masyarakat dalam berbagai kegiatan politik. Dari keterlibatan aktif masyarakat dalam organisasi politik, diharapkan bisa memilih pemimpin yang akan mendesain pembangunan di daerahnya.
"Dengan adanya proses demokratisasi, tentu akan menjadi kesempatan untuk mengapresiasi pandangan politik, sehingga berdampak pada pembangunan ekonomi," terangnya. Selanjutnya, masyarakat dengan sendirinya akan terbiasa berpolitik sambil menjalankan aktivitas ekonominya.
Dia mengingatkan, semua pihak di Madura harus bisa memanfaatkan jembatan Suramadu untuk kebaikan. Sebab, kekayaan Jawa Timur juga banyak terdapat di Madura. Misalnya minyak dan gas. Jika warga Madura tidak bisa mengambil manfaatnya dengan cepat dan tanggap, potensi itu akan dimanfaatkan oleh warga dari luar pulau.
Dengan adanya Suramadu, mobilitas di Madura akan bertambah cepat dan banyak. Baik mobilitas penduduk, pelaku ekonomi, maupun barang dan jasa. Kebutuhan transportasi akan menjadi kebutuhan vital untuk pergerakannya.
Dilihat dari segi wilayah, kata Akbar, Madura memiliki banyak lahan yang bisa dimanfaatkan untuk terminal transpotasi laut dan zona ekonomi ekslusif untuk investasi. Seperti halnya Batam yang memanfaatkan kedekatannya dengan Singapura, Madura juga harus memanfaatkan kedekatannya dengan Surabaya. "Investor akan mencari tempat selain Surabaya yang sudah semakin sempit," ujarnya.
Tidak kalah pentingnya, menurut dia, adalah membuat blue print yang terintegrasi antara Provinsi Jawa Timur dengan empat kabupaten di Madura. "Jelas dibutuhkan kesamaan visi maing- masing kepala daerah dan meninggalkan local centris-nya untuk kepentingan Madura," ingatnya.
Begitu juga subjektifitas kabupaten, harus dihindari. Sebab, cepat atau lambat pembangunan di satu kabupaten terdekat (Bangkalan, Red) akan memengaruhi pembangunan di kabupaten lainnya. Setelah ada blue print, selanjutnya harus ada plan of action (rencana pelaksanaan) untuk menentukan prioritas.
Terkait dengan SDM yang akan menjadi pelaksana dari perencanaan tersebut, Akbar menyebutkan beberapa nama tokoh Madura yang cukup berhasil menjadi sentral di politik nasional. Diantaranya, Prof Mahfud MD, Didik J. Rahbini, dan Hartono. "Mereka harus diajak untuk kembali ke Madura dan memikirkan Madura," tegas mantan aktivis HMI ini.
Selain mereka yang sudah berhasil di pusat, universitas yang ada di Madura harus benar-benar siap. Terutama untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja dengan kualifikasi yang tinggi pasca- Suramadu.
Akbar mencontohkan India sebagai bahan perbandingan. Di negeri yang tercatat banyak penduduknya itu, SDM-nya difokuskan pada satu bidang saja. Dalam 25 tahun terakhir, kemajuan ekonomi India dilatarbelakangi oleh penguasaan teknologi informasi (TI) SDM-nya. "Sekarang mereka tidak lagi resah dengan banyaknya penduduk. Mereka justru senang," katanya.
Sebab, terangnya, dengan tingkat penduduk yang tinggi, India tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk tenaga kerja. Banyak investasi di bidang TI berdampak pada hampir semua penduduk menguasai TI. "Gaji tenaga kerja di sana murah," ungkap Akar.
Dia berharap, masyarakat Madura bisa belajar dari India untuk fokus pada satu bidang saja dalam rangka menarik investasi. Tapi, masuknya investasi itu sendiri masih membutuhkan kesiapan, terutama kesiapan masyarakat. Karena itu, harus ada pendekatan kepada pemuka-pemuka masyarakat. Selanjutnya, mereka yang harus menciptakan kondisi kondusif untuk mendapatkan kepercayaan dari investor.
Jika investor sudah masuk, dengan sendirinya masyarakat yang ada di sekitarnya akan merasakan manfaatnya. Sebab, setiap perusahaan wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungannya terhadap masyarakat yang ada di sekitarnya. "Itu akan menambah nilai masyarakat nantinya," terang Akbar.
Sementara itu, tiga pembicara lainnya, Drs Ec Muh. Syarif MS, M. Tojjib, dan Ir A. Azis Jakfar MTi menjabarkan kendala- kendala yang dihadapi dalam perjalanan menggagas konsep pembanagunan terpadu Madura pasca-Suramadu. Diantaranya, masih kuatnya tarik menarik kepentingan antarkabupaten, dengan provinsi, ketidaksiapan SDM dalam hal mentalitas dan perilaku, dan ketakutan yang berlebihan terhadap dampak moral Suramadu. (*/mat)
JAWAPOS
7:23 AM | | 0 Comments
Bupati Lepas Anak Soleh
PAMEKASAN-Bupati Achmad Syafii memberangkatkan kafilah Pamekasan menuju Festival Anak Soleh Indonesia (FASI) VII Jatim di Surabaya. Acara tersebut digelar kemarin di Pendopo Ronggo Sukowati.
Dalam ajang yang digelar di asrama haji Sukolilo selama dua hari ini (12-13/4), kafilah Pamekasan berangkat dengan harapan mempertahankan statusnya sebagai juara umum. Bupati mengaku, status juara umum yang disandang kafilah Pamekasan pada FASI VI lalu jangan dijadikan beban. Sehingga aksi kafilah FASI yang diperkuat anak-anak usia kisaran 7-14 tahun bisa maksimal. "Saya minta para pembina tidak memberikan target apa pun pada anak-anak. Sebab, itu bisa membuat anak-anak tertekan," katanya.
Kalau sudah terbebani dengan target, kafilah Pamekasan dikhawatirkan tidak bisa tampil maksimal. Kondisi itu tentunya kontraproduktif dengan keinginan para pembinanya maupun peserta untuk meraih prestasi. "Harapan kita sama agar bisa meraih prestasi. Apalagi, selama lima kali pelaksanaan FASI di tingkat Jatim, kita menyabet juara umum," katanya.
Keinginan memperoleh prestasi. Imbuh bupati, jangan sampai mengekang kebebasan berekspresi anak-anak. "Anak-anak itu perlu pembinaan yang spesifik dan hati-hati. Jangan terlalu keras agar mereka tidak stress sebelum tampil," katanya lugas.
Pembina kafilah Pamekasan dalam FASI VII Jatim, Suryanto menjelaskan, tahun ini pihaknya mengirim 89 kafilah yang akan turun di 23 lomba. Diharapkan, para kafilah yang telah melalui proses seleksi dan pembinaan itu bisa tampil maksimal. "Jujur saja, kita agak terbebani dengan status juara umum. Tapi, sejak awal kita tidak memberikan target ini dan itu pada peserta. Kita hanya minta anak-anak tampil maksimal," katanya. (yat/ed)
Sumber JAWAPOS. Sabtu, 12 Apr 2008
7:07 AM | Label: Berita, Madura | 0 Comments








